Bank Indonesia Dorong Pemulihan Sektor Padat Karya Balinusra Lewat FGD Ekonomi Berkelanjutan
Rabu, 30 Oktober 2024

Baliberkarya (Ist)
Baliberkarya.com - Denpasar, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Bali mengadakan acara Diseminasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mendorong Pemulihan Sektor Padat Karya untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dan Inklusif di Wilayah Balinusra”. Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor guna mempercepat pemulihan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di sektor padat karya, khususnya di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Balinusra).
Acara yang diadakan secara hybrid ini dihadiri oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah, akademisi, perbankan, asosiasi, dan pelaku usaha Balinusra.
Strategi Bank Indonesia untuk Mendorong Sektor Padat Karya
Destry Damayanti dalam arahannya menegaskan bahwa pemulihan sektor padat karya, seperti pariwisata, pertanian, dan pengolahan, penting dalam rangka penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat menengah ke bawah. Sektor ini menyerap sekitar 68,4% tenaga kerja nasional dan menyumbang 62% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023. “Kondisi ini sangat penting untuk diatasi agar sektor padat karya dapat kembali menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” ujarnya.
Bank Indonesia menerapkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial dengan mengurangi kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor padat karya, sehingga perbankan diharapkan lebih proaktif mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pemulihan Ekonomi Balinusra dan Tantangannya
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali, G.A. Diah Utari, menyampaikan bahwa ekonomi Balinusra pada triwulan II 2024 tumbuh sebesar 6,84%, melebihi rata-rata nasional 5,05%. Namun, tantangan tetap ada, termasuk terbatasnya akses kredit di sektor padat karya seperti pertanian, perikanan, dan peternakan, yang menyerap tenaga kerja besar.
Bank Indonesia menyoroti pentingnya peningkatan kualitas dan nilai tambah produk unggulan daerah seperti garam, rumput laut, dan produk perikanan untuk mendorong sektor padat karya di Balinusra. Bali diharapkan dapat menjadi sentra produksi garam berkualitas ekspor, sementara NTB dan NTT berperan sebagai penghasil rumput laut untuk industri turunan di Jawa dan Makassar.
Kolaborasi Pentahelix untuk Pengembangan Sektor Unggulan
Prof. Dr. I Made Suyana Utama dari ISEI Denpasar menekankan pentingnya model kolaborasi "Pentahelix" antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Sinergi ini bertujuan menciptakan ekosistem yang mendukung sektor unggulan Balinusra, memperkuat daya saing produk lokal, dan mendukung pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Dukungan Kebijakan Makroprudensial BI dan Sinergi Lembaga Pembiayaan
Ekonom Ahli Senior BI, Bambang Arianto, menyebutkan bahwa hingga September 2024, BI telah mengucurkan insentif makroprudensial senilai Rp256,06 triliun untuk mendukung sektor padat karya. Selain itu, Direktur Pengawas OJK Bali, Ananda R. Mooy, menekankan pentingnya kemitraan dengan fintech dan lembaga pembiayaan untuk mempermudah akses kredit bagi petani dan nelayan.
Komitmen Bersama untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Diskusi ini menyepakati perlunya dukungan lintas sektor dan komitmen bersama guna mendukung pemulihan sektor padat karya di Balinusra. Dengan bauran kebijakan Bank Indonesia, dukungan pemerintah daerah, serta kolaborasi sektor swasta, diharapkan sektor unggulan seperti pariwisata, pertanian, dan pengolahan dapat berkontribusi secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat Balinusra. (Rls\BB)
Berita Terkini
Berita Terkini


Berita Terpopuler



