Pengamat Sebut Bali Layak Lebih dari Sekadar Wakil Menteri
Rabu, 30 Oktober 2024

Ket poto: Pengamat politik Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, I Nyoman Subanda
Baliberkarya.com - Denpasar. Bali, dengan kontribusi besar terhadap ekonomi dan budaya nasional, kembali terpinggirkan dari jajaran posisi menteri dalam kabinet Prabowo Subianto.
Dalam analisis tajam dari pengamat politik Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, I Nyoman Subanda, keputusan ini mencerminkan ketidakadilan terhadap Bali, yang hingga kini hanya diberi tempat sebagai wakil menteri, alih-alih menduduki kursi menteri yang berperan strategis.
"Sejak dulu, tradisi kabinet selalu memberi ruang bagi tokoh Bali untuk berkontribusi nyata di tingkat nasional. Mereka tidak sekadar pengisi kuota, melainkan representasi aktual dari kapabilitas dan kontribusi Bali," tegas Subanda kepada wartawan di Denpasar, Selasa (29/10/2024).
Baca juga:
Cegah Masyarakat Banyak Dibohongi, Suyadinata Diminta Prioritaskan Sekolah Gratis di Badung
Baginya, wakil menteri asal Bali saat ini tampak hanya sebagai simbol penghibur, yang tidak mencerminkan peran strategis bagi tokoh Bali. Ini, menurut Subanda, tak hanya mengecewakan tapi juga tidak sejalan dengan peran besar Bali sebagai penyumbang pendapatan negara.
Lebih jauh, Subanda menyoroti bahwa penempatan tokoh Bali di posisi menteri bukan semata-mata soal asal daerah, tetapi sebuah pengakuan terhadap Bali sebagai pusat pariwisata, kebudayaan, dan kekuatan ekonomi Indonesia.
Bali, yang dikenal sebagai gerbang pariwisata nasional, telah terbukti mampu menghasilkan devisa yang besar bagi negara. "Dengan kontribusi yang signifikan, sudah selayaknya Bali tidak hanya diberi posisi wakil yang kurang mencerminkan pengakuan yang pantas," kritiknya tajam.
Contoh nyata terlihat pada sosok mendiang I Gede Ardika, mantan Menteri Pariwisata, yang mampu memberikan sumbangsih besar karena ditunjuk pada bidang yang memang sesuai keahliannya.
"Jika sekarang kita hanya diberi wakil menteri tanpa keahlian yang relevan dengan kebutuhan Bali dan nasional, itu sekadar hiburan. Bali berhak lebih dari itu," ujar Subanda.
Ia pun mempertanyakan pola pikir penyusun kabinet kali ini, apakah benar-benar memperhitungkan profesionalisme dan kapabilitas tokoh Bali.
"Tokoh Bali yang lebih profesional dalam berbagai bidang ada banyak, dan mereka berkompeten untuk mengambil peran sebagai menteri, bukan sekadar wakil," imbuhnya.
Kekecewaan ini tak hanya sekedar kritik, melainkan bentuk harapan yang kian menuntut keadilan bagi Bali.
Subanda menegaskan bahwa seharusnya tidak sulit bagi penyusun kabinet untuk memberi kepercayaan lebih besar kepada putra-putri Bali yang memiliki kapabilitas profesional untuk mengemban posisi menteri.
Baginya, penempatan yang tepat bukan hanya sekadar posisi, tapi sebuah bentuk pengakuan atas identitas dan kontribusi Bali bagi bangsa. (BB)
Berita Terkini
Berita Terkini


Berita Terpopuler



