IPSA Bali Siap Tanam 1.000 Pohon 'Emas Hijau' Vanili
Kamis, 12 September 2019
GNW for Baliberkarya
IKUTI BALIBERKARYA.COM LAINNYA DI
GOOGLE NEWS
Baliberkarya.com-Denpasar. Kebun tanaman obat Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali berlokasi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada musim hujan bulan Desember 2019 atau Januari 2020 siap menanam 1.000 pohon bibit vanili.
BACA JUGA : Para Profesor Dang Acarya Bali sangat Mendukung Prof. I Gede Wenten sebagai Menristekdikti
“Bibit yang sudah disiapkan itu diperoleh dari tanaman vanili milik masyarakat di wilayah Kabupaten Tabanan dan Jembrana,” kata Direktur Utama PT Karya Pak Oles Tokcer, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr di Denpasar, Kamis (11/9).
Tanaman bernilai ekonomis itu membutuhkan lahan sekitar 50 are. Lahan itu kini sedang diolah dengan lokasi masih dalam satu kawasan di kebun tanaman obat organik seluas 8 hektar. Pengembagan tanaman vanili (emas hijau) selain alternatif sebagai bahan baku herbal, juga harganya selalu baik.
Harga vanili di pasaran kini mencapai Rp7 juta per kg kering atau 5 kg vanili basah setelah diproses menjadi 1 kg kering. Pengembangan tamanan vanili itu dilakukan pada lahan kosong di kawasan tamanan obat-obatan dan juga terdapat kebun cengkeh yang telah berumur lebih dari 40 tahun. Kebun cengkeh itu menurut Pak Oles ditanam oleh ayahnya Ketut Sudana (86) yang masih kini tampil segar di usia senjanya.
BACA JUGA : Duh Kenken Ne! Nihil Informasi, Warga Pertanyakan Perataan Lahan Pinggir Sungai Pekutatan
Dari hasil bunga dan buah cengkeh itulah ayah bersama ibunya Luh Sriwati mampu menyekolah Pak Oles beserta adik-adiknya hingga semuanya kini meraih sukses. Semakin tua pohon cengkeh, bunganya semakin lebat, berkat pemakaian pupuk Bokashi Kotaku. Bunga cengkeh semakin banyak sehingga produksinya terus meningkat setiap tahun itu juga berkat pupuk organik yang berasal dari kotoran sapi, ternak piaraan di sela-sela kebun tanaman obat.
Penggunaan pupuk organik padat itu juga diimbangi dengan pemakaian pupuk cair Effective Microoganisme (EM4) sehingga tanah semakin subur yang berdampak pada produksi buah cengkeh semakin meningkat.
“Beginilah cara kami hidup di desa, rajin bertani, hidup hemat dan kreatif dengan teknologi effective microorganisme (EM),” ujar Pak Oles.
Di Desa Bengkel sebagai pusat pengembangan tanaman obat herbal yang mengoleksi sekitar 350 jenis tanaman juga telah dibangun pabrik Minyak Oles Bokashi untuk meningkatkan kesehatan serta pabrik penerapan EM4 untuk mendukung pengembangan peternakan, perikanan dan usaha pertanian dalam arti luas. Dalam satu kawasan terpadu itu juga dibangun Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali yang telah melatih ribuan petani dan elemen lain dari berbagai daerah di Indonesia sejak lembaga tersebut dirintis 1997.(BB)