Sosialisasikan Empat Pilar di Institut Bisnis dan Informatika KOSGORO 57, Gus Adhi Ingatkan Mahasiswa Pegang Kuat Pancasila Sebagai Falsafah Negara

Foto: Anggota Badan Sosialisasi MPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) saat mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI di Institut Bisnis dan Informatika KOSGORO 57 (IBI - K57), Jakarta, Selasa (28/9/2021)

Baliberkarya.com-Jakarta. Untuk lebih mencintai Tanah Air dan menebalkan wawasan kebangsaan serta menangkal radikalisme, Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra) kembali hadir mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI. Kali ini, politisi senior yang akrab disapa Gus Adhi ini mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI kepada kalangan generasi muda, para mahasiswa di Institut Bisnis dan Informatika KOSGORO 57 (IBI - K57), Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Empat pilar yang disosialisasikan Gus Adhi yang merupakan Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Bali ini yaitu, Pancasila sebagai Dasar Ideologi Negara, UUD Tahun 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka tunggal Ika sebagai semboyan negara.

"Saya senang bisa memberikan materi Empat Pilar di kampus Kosgoro 1957 yang merupakan salah satu ormas pendiri Partai Golkar. Saya ajak mahasiswa mendalami Empat Pilar MPR RI," ucap Gus Adhi yang dikenal dengan spirit perjuangan “Amanah, Merakyat, Peduli” (AMP) dan “Kita Tidak Sedarah Tapi Kita Searah" ini.

"Penting kita gaungkan Empat Pilar akan menebalkan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda," imbuh wakil rakyat yang dikenal sederhana dan merakyat tersebut.

Dihadapan mahasiswa, Gus Adhi yang bertugas di Komisi II DPR RI ini berpesan agar mahasiswa yang merupakan generasi muda penerus pembangunan agar tidak hanya hafal mengucapkan Pancasila tapi bagaimana benar-benar mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai insan Pancasilais.

"Apalagi di masa pandemi ini kita harus meningkatkan rasa gotong royong, rasa saling sayang menyayangi. Karenanya saya tekankan sesuai Sila Pertama Pancasila bagaimana meningkatkan iman dan takwa kita. Lalu terkait Sila Kedua kita meningkatkan rasa sayang kita kepada sesama," ungkap politisi Golkar asal Kerobokan, Badung, Bali ini.

"Sila Ketiga, kita memperkokoh rasa persatuan. Sila Keempat, selalu bermusyawarah dalam kehidupan. Sila Kelima, kita meningkatkan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial karena itu merupakan jati diri bangsa kita. Jadi masa pandemi ini kita harus bergandengan tangan," imbuh Gus Adhi.

Materi yang disampaikan secara ringan dan santai khas Gus Adhi ini tentu saja disambut antusias para generasi muda. Bahkan banyak tanggapan dan pertanyaan datang dari kalangan mahasiswa. Seperti ada yang menanyakan bagaimana upaya dalam  mengelola perbedaan yang ada sehingga tidak berbuah konflik.

Menanggapi pertanyaan mahasiswa, Gus Adhi menjelaskan perbedaan adalah karunia indah dari Tuhan agar kita lebih dewasa juga dalam menjalani proses kehidupan. Contohnya di rumah tangga kita ada perbedaan, laki perempuan, dan bagaimana di tengah perbedaan itu kita menciptakan keharmonisan. Dalam konteks NKRI juga kita ada perbedaan suku, agama, budaya yang merupakan berkah Tuhan yang indah untuk bangsa ini.

"Kuncinya bagaimana mengelola perbedaan itu untuk menciptakan keharmonisan," terang Gus Adhi yang juga Ketua Harian Depinas SOKSI ini.

Ada juga pertanyaan menarik dari mahasiswa yang menanyakan apakah bangsa yang mempunyai ideologi dan falsafah apakah pasti bisa lepas dari perpecahan. "Saya bilang tidak mesti. Semua bangsa mempunyai ideologi dan falsafah tapi bangsa itu akan hancur bilamana tidak bisa memegang teguh falsafah," jelas Gus Adhi.

"Makanya disanalah fungsinya MPR RI menghadirkan sosialisasi Empat Pilar. Kalau falsafah Pancasila sudah tertanam jadi jati diri bangsa maka disanalah kekuatan bangsa akan terwujud," tambah Gus Adhi menjawab pertanyaan mahasiswa.

Tak lupa, Gus Adhi menegaskan bangsa dan negara yang kuat adalah yang mampu memegang teguh falsafah negara. Sebaliknya suatu bangsa dan negara bisa hancur berkeping-keping, terpecah belah jika tidak mampu memegang teguh falsafah negara. Karenanya Indonesia jika ingin tetap eksis terus sebagai bangsa dan negara yang kuat, besar dan menjadi negara maju maka harus tetap berpegang teguh pada Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia.

"Irak, Libya, Yaman, Suriah hancur karena tidak kuat pegang falsafah negaranya. Maka Indonesia harus kuat pegang falsafah negaranya yakni Pancasila. Jangan lagi Pancasila seperti diberikan ke pasar bebas, bisa diadakan bisa tidak," tegas Gus Adhi yang juga Ketua Depidar SOKSI Bali ini.

Dalam kesempatan ini, para mahasiswa yang menerima sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini juga mengkhawatirkan kekuatan negara asing yang berpotensi mengintervensi Indonesia. Karenanya muncul pertanyaan mahasiswa bagaimana upaya membendung kekuatan asing dalam mengganggu keamanan dalam negeri kita.

Menanggapi pertanyaan ini, Gus Adhi mengutip kata bijak Sang Proklamator dan Presiden pertama RI Bung Karno yang menyebutkan "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.“

"Kata-kata Bung Karno itu harus jadi refleksi dalam upaya membendung kekuatan asing karena yang mampu membendung itu ya diri kita sendiri, kembalilah kepada falsafah jati diri bangsa kita Pancasila," jawab Gus Adhi menjelaskan.

Untuk diketahui, Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57) yang dahulu bernama Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIMA) Kosgoro merupakan perguruan tinggi swasta bidang Bisnis dan Informatika di Jakarta Selatan yang telah berkiprah sejak tahun 1990.

Pada tahun 2012, STIMA Kosgoro berubah nama menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957. Badan Penyelenggara IBI-K57 adalah Yayasan Universitas Kosgoro 1957 dibawah naungan Kosgoro 1957. Sementara Kosgoro sendiri merupakan salah satu ormas pendiri Partai Golkar bersama SOKSI dan MKGR yang disebut Ormas Tri Karya.(BB). 


TAGS :

Komentar